Chapter One

feeling good
Kindly play the song and press the love for more -!!
( Press the "listen in browser" )
Untuk kritik dan saran, silakan tekan icon di bawah

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tetapi aku malah berkeliaran di gang sempit, dekat bar tempatku bekerja. Alasanku berada di gang sempit ini, karena aku sedang mengikuti seorang pria yang berjalan ling-lung karena sedang mabuk.
Beberapa saat kemudian, aku mempercepat langkah kaki dan jarak antara dia dan diriku semakin dekat. Ketika jaraknya sudah cukup dekat, aku mulai mengambil pisau yang sudah kugenggam.
Lalu menusuknya ke arah kaki bagian kiri. Otomatis dia terjatuh, karena aku tidak ingin membuang waktu, akhirnya aku langsung mengantongi pisau tadi lalu mengeluarkan seutas benang pancing.
Dengan gerakan cepat aku mulai mencekiknya dengan benang tadi. Dia mulai meronta-ronta, memukul tanganku untuk membela diri.
Tetapi sayang, kandungan alkohol yang berada di dalam tubuhnya membuat dia terkulai lemas. Dan momen itu aku manfaatkan untuk mengencangkan cekikanku, hingga lehernya mengeluarkan darah.
Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum lebar dan bahagia. “Teruslah, teruslah kau meringis kesakitan dan keluarkan semua darah dari dalam tubuhmu,” bisikku padanya.
Selang beberapa menit, aku sudah tidak mendengar ringisannya lagi, aku pun berdecap kecewa.
“Hei ... mengapa kau mati semudah itu? Aku belum puas untuk mendengarkan rintihanmu!” seruku dengan kesal.
Karena permainan telah usai aku mulai melepas cekikan tadi. Mengeluarkan botol Beer yang ada di saku jaket, membuka penutup botol dan membersihkan luka di leher pria tadi.
Setelah bersih aku menyeretnya ke tembok, lalu membuat posisinya terduduk dan menunduk.
“Oh dear ... lihatlah hasil karyaku malam ini, meskipun cukup mengecewakan tapi kau tetap terlihat tampan, sweetie” gumamku pelan sembari memandanginya.
Selanjutnya, aku mengambil semua barang bukti dan membuangnya jauh dari tempat kejadian. Untuk sarung tangan dan benang pancing tadi, aku membakarnya hingga tak tersisa.
Melihat kobaran apinya membuatku tersenyum dan tanda untuk mengakhiri malam yang cukup panjang ini.

Sesampainya di depan paviliun, aku mulai masuk sembari mengendap-endap agar tidak ada pelayan yang terbangun.
Tetapi ketika aku berada di depan pintu paviliun, George terbangun. Dia anjing penjaga di paviliun ini.
“Hei, George sttt diamlah. Tidur lagi okey!” seruku sambil mengelus kepalanya. Mungkin karena dia dekat denganku dan mengerti apa maksudku, dia akhirnya tertidur lagi.
Setelah melewati tantangan yang cukup menegangkan tadi, aku mulai mengendap-ngendap lagi menuju kamar.
Tak lama aku pun sampai di depan kamar, melihat kanan kiri untuk memastikan tidak ada pelayan yang terbangun.
Dengan mengangguk yakin aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Lalu aku berbalik badan dan sedikit kaget setelah melihat adikku yang sedang duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.
Tanpa menggubrisnya aku lanjut berjalan menuju kasur, terduduk dan mulai melepaskan jaket. Dia yang mulai sadar atas kehadiranku mulai mematikan handphone, menoleh dan mamandangku dengan tatapan dingin.
“Hei ... bukankah aku sudah bilang untuk tidak pulang sampai sepagi ini?” ujarnya.
“Hmm kau datang lagi ke kamarku?”
“Kenapa kau malah mengalihkan topik? Bagaimana jika seorang putri penerus kerajaan berkeliaran dini hari di paviliunnya huh?” tanyanya lagi yang membuatku sangat muak.
“Lalu bagaimana denganmu? Seorang putra mahkota penerus kerajaan berada di kamar seorang putri di pagi buta?”
“Oh jadi kau sedang membela diri?”
Mendengar pernyataan itu, aku yang sedang membuka sepatu mulai naik pitam. Tetapi, responku untuknya hanya diam saja.
“Hei ... apakah kau tuli? Apakah kau tidak mendengarkanku?” tanyanya dengan nada kesal.
Aku yang sudah tidak bisa menahan emosi lagi melempar belati yang berada di dagger pocketku, melingkar di pergelangan kaki. Belati itu menancap pada dinding di belakangnya, namun leher dia sedikit tergores.
Aku memang sengaja melesetkan belati itu karena itu hanyalah sebuah ancaman.
"Hei, Thunder Theodore Persephone Wallnut. Jangan hanya kau seorang bos mafia dan seorang putra mahkota di negeri ini, bukan berarti aku tidak bisa membunuhmu!" seruku sambil memainkan belati yang lain.
Lalu aku beranjak dari kasur mendekati Thunder, semakin dekat semakin jelas wajah datarnya. Tetapi terpancar dari matanya kalau dia kaget dan sedang ketakutan. Melihat goresan di lehernya membuatku dengan bersemangat mengelusnya, lalu menekan luka itu.
Dia meringis kesakitan tapi di satu sisi dia tak bisa melawan, karena dia tau selicik apa diriku ini. Kudekati telinga dia lalu berbisik.
"Kau tau aku orangnya seperti apa, jika kau pantas mati di tanganku tidak peduli kau seorang bos mafia atau pangeran aku akan membunuhmu, sweetie."
Setelah itu aku mulai menjauh, berjalan menuju kasur sambil menjilat bekas darah Thunder di sela-sela jariku. Lalu dengan santai aku membuka baju, dan Thunder? dia hanya melenggang keluar begitu saja dan aku tak menoleh sedikit pun.
Akhirnya Thunder keluar dan aku mulai membersihkan diri, memakai baju tidur dan menarik selimut untuk beristirahat setelah malam yang panjang. Menutup mata dan terhanyut oleh gelapnya mimpi.